Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

5 Mar 2013

Ngantuk


Lita menghitung permen karet di dalam tasnya, tiga puluh butir untuk tiga ratus menit. Hari ini ada tiga mata kuliah yang dia ambil, masing-masing seratus menit. Menurut perkiraannya, sebutir permen karet mampu membuatnya bertahan selama sepuluh menit, jadi ia butuh tiga puluh permen karet untuk membuatnya tetap terjaga selama tiga ratus menit pelajaran. Sejak dua hari yang lalu Lita menggunakan metode ini untuk mengusir kantuk yang hampir selalu bertengger di matanya tiap jam pelajaran di mulai. Susan yang mengusulkan cara ini. Setelah berbagai cara yang dilakukannya gagal total.
Mulai dari metode TukBit (ngantuk-cubit) yang dipopulerkan Mega si pemilik kuku panjang. Dengan penuh semangat Mega menancapkan jari-jari bercakarnya tiap kali Lita mulai tertunduk dalam. Cara ini memang berhasil membuat Lita terbangun, sayangnya dua hari berjalan ia mulai menyadari ada ukiran tidak wajar di sekujur tubuhnya. Ia merasakan perih yang teramat sangat akibat cakaran jari-jari Mega.

7 Jan 2013

Semerah Kelopak Mawar (Part 3)

Mawar termangu, melepas pandang pada rintik hujan dibalik kaca jendela. Ada tatap kerinduan di bola matanya. Ini sudah bulan ketiga sejak ia meninggalkan rumah untuk mengikuti program pembinaan Bahasa Inggris. Ia rindu rutinitas yang membosankan di rumah. Berangkat pagi-pagi ke sekolah, mengejar bel masuk. Pulang telat demi menyelesaikan laporan kegiatan siswa. Tepat ketika pintu rumah terbuka, dua atau tiga bocah menyambutnya, menunggu giliran belajar. Mawar cuma tersenyum kecut, percuma mengatakan lelah pada bocah-bocah lugu itu. Aktivitas yang sama berulang di sore dan malam hari. Menuntun anak SD mengeja pelajaran. Dulu Mawar sering mengeluh. Ia bosan, lelah. Tapi kini, ia justru rindu rengek manja murid-muridnya. Ia rindu dengan tingkah nakal mereka.

Angin menerbangkan butiran hujan ke wajahnya. Mawar terbangun dari lamunan. Langit sudah gelap, saatnya kembali berkutat dengan ejaan asing

10 Des 2012

Semerah Kelopak Mawar (Part 2)

Hari ini Mawar menemukan keceriaannya. Sedari pagi tawanya berderai, bersama teman-teman sekamar, teman-teman sekelas. Ia bahkan menyapa mas-mas panitia yang tengah sibuk mencopot sepatu, siap menerjang hujan. Sore gerimis, Mawar masih menjaga suasana hati riangnya. Ia dan Zahria, teman sekamarnya, berjalan menuju pintu keluar gedung asrama. Tepat satu meter di depan gedung, matanya menemukan sosok itu, pria berkaca mata tengah menekuri layar komputer. Mawar tersenyum, seuntai sapaan keluar dari mulutnya, "Mari, mas,,"
Si objek mengangkat kepala, sesaat sebelum si empunya suara berlalu. "Yaa,,"
Mawar mendengar jawabannya. Kini bukan lagi senyum kecil, senyum lebar merekah di bibirnya. Suara yang ia tunggu,,

8 Des 2012

Semerah Kelopak Mawar (Part 1)

Saat itu kedua kalinya mereka bertemu. Di sebuah ruang kelas mungil, bagian dari gedung mewah milik kementerian Indonesia. Bayu tengah menyapu ketika Mawar datang dengan berdendang lirih. Pintu terbuka, pandangan mereka bertemu. Seketika bibir gadis muda itu terkunci demi dilihatnya seorang pria yang ia kagumi menatap kearahnya. Dengan langkah kikuk ia menuju bangku tempat duduknya, meletakkan setumpuk buku lalu bergegas meninggalkan ruang kelas. Pipinya memerah, semerah hatinya yang berbunga-bunga.

Mungkin orang akan heran mengapa gadis seperti Mawar bisa terpesona pada seorang Office Boy. Dia sarjana dari salah satu Universitas Negeri terkemuka. Dan dia datang kesini untuk mengikuti program persiapan kuliah ke luar negeri. Mimpi yang ia idamkan sejak di bangku SMP. Seharusnya ia akan menghabiskan sepanjang hari untuk menekuri ejaan Bahasa Inggris jika saja ia tidak terpikat pada sosok OB yang mencuri sebagian menitnya untuk berangan-angan. Bukan Mawar jika dia berani dengan terus terang menunjukkan perasannya. Dia terlalu malu, malu pada kekasih hatinya, malu pada Tuhannya. Tekadnya sudah bulat, tidak akan menjalin hubungan spesial kecuali dengan suaminya nanti.

Bayu, entah apa dia menyadari perasaan gadis itu. Mawar juga tidak berharap dia tahu, atau dia akan malu. Biarlah Tuhan yang menjawab rasa hatinya. Mawar akan menunggu,,

30 Jun 2012

Detik Juang RDK' 31 (Ramadhan di Kampus 1431 H)

 Intro Ukhuwah,
Sepenggal kisah di Pondok Pesantren “Raih berkah Menuju Fitrah”. Enam orang santriwan dan enam orang santriwati ditakdirkan Sang Pemilik hati untuk bertemu menjadi sutradara sebuah Mega Film Pembangun Jiwa “Ramadhan di Kampus 1431 H” .  Tidak kurang dari enam bulan mereka berkutat merajut kisah demi kisah menjadi rentetan skenario yang siap dijalankan tepat pada bulan Ramadhan 1431 H.  Dari suara yang terpantul di balik hijab coklat, sedikit demi sedikit mereka akhirnya mampu menyelami karakter masing-masing. Perselisihan dan perbedaan pendapat menjadi jajaran warna kontras yang menyusun pelangi RDK’31. Karena mereka dicipta untuk saling mengisi dan menguatkan.
===============================================================

Adira dan Hujan

Adira berlari-lari kecil. Menerobos tetesan air hujan yang membentuk bintik-bintik kecil di seragam merah putih. Sesekali cipratan air mengotori ujung kakinya. Yah, sepatunya sudah dilepas sejak dari sekolah. Ia kini memanggul tas berbalut kresek merah sambil terus berusaha menjangkau halaman rumah secepat mungkin. Bunda menunggu di pelataran rumah dengan wajah cemas. Benar saja, begitu melihat Adira muncul di ujung gang, bunda segera berlari menjemput putrinya dengan sebuah payung.

30 Okt 2011

Tetes Hidayah

Seberkas cahaya putih menerpa wajahku. Silau, kukatupkan kedua kelopak mata. Beberapa detik kemudian aku melihat bayangan seorang perempuan berusia 20an tersenyum ke arahku. Dia mengenakan gaun putih panjang yang menutupi sekujur tubuhnya. Selembar kain membungkus rapat kepalanya, menjuntai hingga menutup leher dan dadanya. Aku pernah melihat wajah itu sebelumnya. Entah di mana. Bagai terhipnotis aku melangkah pelan mendekatinya. Ada kedamain yang tiba-tiba menelusup di hatiku.

Wanita di Ujung Senja

Aku tengah mendengarkan Susan mengaji ketika tiba-tiba ada yang bergetar di saku gamisku. Sederet huruf terpampang di layar ponsel, ibu,,,
“Kapan pulang, Ras?” tanya suara di seberang.
“Belum tau, Bu.” Jawabku.
“Koq sekarang Laras sudah mulai lupa rumah ya?” nada suara ibu sedikit meninggi.
“Kan belum genap dua minggu sejak kepulangan Laras kemarin, Bu. Minggu depan masih ada acara.”
“Kalau semua acara diikuti ya nggak bakal ada selesainya, Nak”
“Iya Bu, kalau ada waktu kosong Laras segera pulang.”

Bintang untuk Ulul

Ulul menatap langit malam melalui balkon rumahnya. Bocah perempuan berusia hampir delapan tahun itu senang sekali melihat bintang, menghitung dan menggabungkannya menjadi aneka benda dalam imajinasinya. Bunda mengajarkan kebiasaan itu sejak kecil.
“Kalau Ulul rindu ayah, keluarlah pada malam hari. Lihat bintang-bintang  yang menghiasi langit. Bintang-bintang itu jauh, tidak bisa disentuh tapi kita bisa melihat cahayanya, merasakan keberadaannya. Begitu juga dengan ayah. Dia jauh, tapi dia tidak akan pernah meninggalkan kita, seperti bintang yang terus memancarkan sinarnya.”