17 Jan 2017

Di Ujung Jumpa


Jika kau kenal aku sebagai sosok yang tak pandai berkata manis maka kau benar
Sebab aku selalu merinding saat mengatakan hal-hal yang bersifat melankolis
Jangankan berucap tentang kasih sayang, hanya untuk menyatakan rindu saja aku enggan
Tapi tak berkata bukan berarti tak merasa
Aku meyakini bahwa semakin dalam suatu rasa, maka semakin sulit ia dikata
Andai saja tak ada takut akan berpisah, kan kusimpan rapat semua rasa
Biarkan semua menjadi rahasia, cukup kusebut dalam doa
Tapi kita berada diujung jumpa, maka biarkan aku memberi alasan untuk dijaga
Kawan, aku tak pernah serius membuatmu kesal, aku hanya senang melihat wajah cemberutmu
Jika aku menjatuhkanmu dalam canda, maka itulah cara bodohku memujimu
Jika aku bersikap acuh, maka itu gengsiku yang menutupi rindu
Ketika kau bersedih, dan aku justru menggodamu, itulah caraku menghiburmu
Jika aku marah padamu, maka sungguh kemarahan itu hanya sejengkal
Kawan, di simpang jalan ini... aku tak tau apa kita akan berjumpa

Maka izinkan aku mengucap kata... uhibbukum fillah...

9 Nov 2016



Lihat, lihat senyum ceria itu... seakan tidak ada beban. Seakan bukan berarti benar-benar tidak ada beban kan. Yah, karena setiap orang selalu punya pilihan bagaimana menghadapi kesulitan hidup yang dipikulnya. Mau frustasi sampai gak bisa ngapa-ngapain atau kalem-kalem saja dengan tetap berusaha menyelesaikan masalahnya.

Perkenalan dulu, itu.. kumpulan manusia berjaket merah yang terdiri dari 9 laki-laki dan 9 perempuan adalah Badan Pengurus Harian salah satu organisasi yang tengah saya geluti. Mereka, sejauh yang saya kenal, memang tergolong orang-orang ceria meski ada juga yang menyimpan jiwa melankolis, introvert, pendiam nan kalem dan beberapa sifat aksesoris lainnya. Jadi, wajar sekali jika ekspresi bahagia semacam itu tetap muncul meski disela kesibukan dan amanah yang luar biasa.

1 Nov 2016

Dream Comes True

 
Mimpi... tak ada yang salah dengan sebuah mimpi. Terlebih jika mimpi itu hadir saat seseorang dalam keadaan terjaga. Mimpi yang datang karena dibentuk, bukan datang dengan sendirinya saat mata terpejam. Mimpi yang merupakan puncak harapan. Mimpi yang menjadi keinginan untuk dicapai suatu saat. Ingat aku dulu pernah menulis mimpi-mimpiku dalam sebuat kombinasi gambar. (lihat Dreams) Sudah lama sekali, 30 Oktober 2011. Mimpiku untuk mengunjungi tempat-tempat yang indah. Mimpi menghabiskan senja di pantai Losari, mimpi merasakan 4 musim di Jepang, mimpi menatap bunga tulip dan kincir air di Belanda, dan mimpi menikmati pendar warna aurora di Alaska. Yah, mimpi yang terlalu beragam,random. Tapi sekali lagi tak ada yang salah dengan mimpi. Dan kini, setelah 5 tahun berselang aku mulai melihat titik terang akan salah satu mimpiku, mimpi terkecil, menghabiskan senja di pantai Losari.

1 Apr 2016

Rumahku, Fun(D)rising


Ada yang bilang, bahwa ketersediaan waktu bukan ditentukan oleh waktu itu sendiri, tapi lebih oleh si pengguna waktu. Kita akan selalu punya waktu untuk hal yang kita prioritaskan. Sebaliknya, kita cenderung enggan menyisihkan waktu untuk hal yang bukan prioritas, apalagi hal yang tidak disukai. Begitulah manusia.. hati selalu mengambil bagian dalam setiap tindakan. Karena itu, passion menjadi hal yang sangat perlu dipertimbangkan saat kita menentukan pilihan.
***

Perkenalkan, kami adalah insan yang dipertemukan Allah lewat sebuah takdir yang tak diduga. Baiklah, sebagian dari kami memang memilih jalan ini, tapi kami tak pernah meminta untuk disatukan. Penyatuan kami murni kehendak Allah. Takdir yang belakangan kami syukuri karena memberikan dampak yang berarti dalam hidup kami.

8 Feb 2016

Ketika Hati Mengucap Syukur


Manusia, begitu mudah mereka menghakimi diri sendiri sebagai orang yang malang, tidak beruntung, menderita. Yah, karena hal negatif memang lebih mudah terlihat daripada hal-hal positif. Sedikit sakit lebih terasa dibanding kesehatan yang melimpah. Sedikit kegagalan lebih menghantui dibanding banyaknya keberhasilan.

Pagi menjelang siang, aku duduk di kamar kos, sendiri, menatap langit cerah berawan melalui jendela kaca. Bete, hari ini hari libur dan aku tidak punya rencana liburan apapun. Teman sekos pergi. Maka tinggallah aku dipenjara dinding-dinding kamar kos. Beberapa menit mencoba membuka-buka diktat kuliah, but I dont have any mood to read those strange syimbols. Akhirnya aku memilih berkutat dengan tab di tangan. Menyapa beberapa orang di grup WA, hingga aku mengingat seseorang. Salah satu sahabat, bisa dibilang kakak, yang dulu sering menghabiskan waktu bersama semasa S1.

25 Jan 2016

Keseimbangan


Hidup diciptakan dengan keseimbangan. Seseorang dikatakan sukses ketika ada orang lain yang gagal, si kaya ada karena keberadaan si miskin, ada yang cantik karena ada yang jelek. Maka sebenarnya sifat-sifat semacam itu sangat relatif. Tidak ada batasan pasti dimana seseorang dikatakan memiliki sifat tertentu, penilaian lahir karena suatu perbandingan.

Maka, pada dasarnya kepercayaan diri bisa ditumbuhkan dengan menata mindset. Dimana kita dengan bebas membuat tolok ukur sifat tertentu. Orang boleh saja melihat kita sebagai orang yang gagal, tapi kita bebas menilai apakah kita benar-benar gagal atau justru ada keberhasilan yang tak kasat mata? Orang boleh saja mengatakan kita miskin, bodoh, jelek, tapi kita selalu bisa mencari pembelaan atas tuduhan itu. Mari kita lihat suatu kasus berikut.

20 Jan 2016

Semua akan Indah pada Akhirnya (2)


Melanjutkan tulisanku sebelumnya tentang bagaimana rencana Allah begitu indah. Hikmah yang terungkap tiga tahun setelah sebuah kegagalan mencapai mimpi. Kali ini aku akan melanjutkan cerita itu, dimana hikmah yang sama terjadi di balik tertundanya sebuah mimpi.

Sebagai penerima beasiswa Departemen Agama, aku dibebaskan dari segala bentuk biaya pendidikan ditambah dengan biaya hidup yang cukup besar dibanding beasiswa lainnnya. Bukan hanya itu, kami juga dibebaskan meminta dana kegiatan yang diadakan oleh organisasi penenrima beasiswa Depag. Setahun sekali, kami diberangkatkan ke berbagai daerah untuk melaksanakan pengabdian sekaligus bertemu dengan penerima beasiswa Depag dari seluruh Indonesia. Hari-hari menjadi mahasiswa begitu menyenangkan. Aku bisa belajar dengan tenang tanpa dibebani tanggungjawab finansial sebagaimana teman-temanku yang lain. Tapi itu semua tidak gratis. Kami memiliki kewajiban untuk melakukan pengabdian di pesantren asal selama kurun waktu tiga tahun setelah lulus S1.