8 Nov 2011

Surabaya, Menangis Semalam

     Semalam suntuk hujan turun tanpa henti. Entah duka apa yang menghampiri Surabaya sampai ia "menangis semalam". Kampus ITS yang notabennya berasal dari daerah rawa-rawa, pagi ini kembali ke bentuk asalnya. Hamparan rumput di lapangan tertutup genangan air hujan, berubah menjadi danau-danau kecil yang dihuni komunitas hewan air <baca : yuyu, ikan, dll>. Hawa dingin berpadu dengan gemuruh suara hujan menjadi simponi indah yang menemaniku mengerjakan tugas akhir (TA euy,,,).

3 Nov 2011

God will,,,,

     Pelajaran baru hari ini, Allah berkuasa untuk membuat apapun terjadi. Ceritanya begini, Hari Jum'at aku ada UTS Kapsel ROS. Menurut pengalaman kemarin-kemarin, aku bisa mengerjakan soal yang diberikan dosen dengan kecepatan super, yang lain masih bengong aku dah nyengir nunjukin hasil ke dosenku. Beliaupun memujiku sebagai pekerja tercepat (berasa karyawan packing di pabrik-pabrik).

Pita Warna, Pelangi,,,

     Pelangi,,, pita warna hasil dispersi cahaya pada butiran air itu begitu indah. Sudah lama sekali sejak terakhir aku melihatnya. Kenapa yah akhir-akhir ini hujan tak pernah berujung pelangi?? Hmm,,,, hujan. Aku ingat betul masa kecilku selalu dipenuhi tawa saat hujan. Hampir tiap turun hujan, aku dan teman-teman sepermainanku turun ke jalanan. Berlari kesana kemari menikmati tetesan hujan. Sasaran utama kami adalah

30 Okt 2011

My dream,,,,

Selalu menyenangkan ketika kita membayangkan mimpi-mimpi menjadi kenyataan. Siang itu, entah kenapa tanganku tergerak menghubungi mbah Google. Meminta gambar-gambar tempat yang aku impikan untuk didatangi. Wuih,,, bahagia sekali melihat keindahan tempat-tempat itu dalam sebuah gambar. Tak terbayangkan bagaimana seandainya ada diriku yang nempel di salah satu titik pada gambar itu. Tempat indah yang aku impikan,,,

Tetes Hidayah

Seberkas cahaya putih menerpa wajahku. Silau, kukatupkan kedua kelopak mata. Beberapa detik kemudian aku melihat bayangan seorang perempuan berusia 20an tersenyum ke arahku. Dia mengenakan gaun putih panjang yang menutupi sekujur tubuhnya. Selembar kain membungkus rapat kepalanya, menjuntai hingga menutup leher dan dadanya. Aku pernah melihat wajah itu sebelumnya. Entah di mana. Bagai terhipnotis aku melangkah pelan mendekatinya. Ada kedamain yang tiba-tiba menelusup di hatiku.

Wanita di Ujung Senja

Aku tengah mendengarkan Susan mengaji ketika tiba-tiba ada yang bergetar di saku gamisku. Sederet huruf terpampang di layar ponsel, ibu,,,
“Kapan pulang, Ras?” tanya suara di seberang.
“Belum tau, Bu.” Jawabku.
“Koq sekarang Laras sudah mulai lupa rumah ya?” nada suara ibu sedikit meninggi.
“Kan belum genap dua minggu sejak kepulangan Laras kemarin, Bu. Minggu depan masih ada acara.”
“Kalau semua acara diikuti ya nggak bakal ada selesainya, Nak”
“Iya Bu, kalau ada waktu kosong Laras segera pulang.”

Bintang untuk Ulul

Ulul menatap langit malam melalui balkon rumahnya. Bocah perempuan berusia hampir delapan tahun itu senang sekali melihat bintang, menghitung dan menggabungkannya menjadi aneka benda dalam imajinasinya. Bunda mengajarkan kebiasaan itu sejak kecil.
“Kalau Ulul rindu ayah, keluarlah pada malam hari. Lihat bintang-bintang  yang menghiasi langit. Bintang-bintang itu jauh, tidak bisa disentuh tapi kita bisa melihat cahayanya, merasakan keberadaannya. Begitu juga dengan ayah. Dia jauh, tapi dia tidak akan pernah meninggalkan kita, seperti bintang yang terus memancarkan sinarnya.”